Kamis, 28 Mei 2009

Membangun Relasi Ilusi dengan Kecanggihan Teknologi

Membangun Relasi Ilusi dengan Kecanggihan Teknologi
Mark Zuckerberg (24) memang luar biasa. Ia berhasil membuat lebih dari 100 juta manusia di dunia ini gandrung dengan produknya, facebook (fb). Hanya dalam waktu 5 tahun, fb menjadi situs jejaring sosial nomor satu. Melesat, meninggalkan “teman sepermainannya” seperti Friendster dan My Space. Sementara berdasar data Alexa April 2009, untuk seluruh situs di dunia, fb menempati rangking keempat, setelah Google , Yahoo, dan YouTube. Grafik fb terlihat terus meningkat.

Tak heran, jika majalah Time menjulukinya sebagai “salah satu orang paling berpengaruh tahun 2008”. Karena fb memang membawa perubahan baru di dalam kehidupan manusia. Tiba-tiba saja, ia menjadi sesuatu yang penting. Orang rela kehilangan waktu istirahatnya demi berinteraksi dengan fb. Pekerja kantor curi-curi waktu kerjanya untuk fb. Ibu rumah tangga memasak sambil mengakses fb. Fb juga menggantikan buku atau koran sebagai teman pembunuh sepi. Tiada hari tanpa melongok fb. Begitulah kebiasaan baru manusia di planet ini.

Ya, inilah era baru. Era yang merevolusi cara orang berkomunikasi dan berjejaring. Berkomunikasi tidaklah harus bertemu secara fisik. Karena toh orang bisa berbagi info, ekspresi, canda, hasrat dan impian lewat jejaring sosial di dunia maya itu. Komunikasi terjalin dalam sunyi, tanpa suara. Hanya dengan kata-kata. Meski begitu, komunikasi itu terasa amat riuh. Ada gelak tawa, teriakan gembira, tangisan haru hingga hentakan kaki kekesalan. Walau bukan riuh yang sebenarnya. Keriuhan itu bisa jadi hanya ada di dalam benak orang ketika di menatap layar monitor. Menghadapi sebuah benda mati.


Mempermudah Membangun Identitas
Harus diakui, fb memang sangat mengasyikan. Kita bisa memperluas jaringan pertemanan hingga lintas benua. Bahkan, bisa menemukan kepingan masa lalu yang sempat hilang. Bertemu kembali dengan teman sekolah yang tak jelas rimbanya. Fb menisbikan ruang, waktu dan batasan sosial. Ia memperkuat jalinan relasi yang merengang karena keterbatasan itu.

Keasyikan tak berhenti ini. Fb memberi ruang lebar untuk membangun sebuah identitas diri. Hasrat purba setiap orang, narsistik, mendapat tempat. Orang dengan mudahnya menunjukkan eksistensi dirinya. Melalui tulisan dan foto-foto. Tiba-tiba saja, keberadaan seseorang dengan mudah diakui. Orang menjadi merasa bahwa dirinya penting dan sangat berarti.

Padahal dalam dunia nyata, membangun sebuah identitas tidaklah semudah ini, butuh waktu yang panjang. “Karena setiap orang itu punya barrier, kesulitan untuk mengekspresikan diri dan ketrampilan berkomunikasi. Dan, di fb semua itu tidak dibutuhkan. Orang menjadi leluasa membentuk identitas diri dengan cara yang dipermudah. Meski tidak berarti, itu menjadi identitas diri yang sesungguhnya,” tutur Dr. Christina Siwi Handayani (36), staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Sekat-sekat itu seakan lenyap. Orang bebas bicara dan komentar tanpa takut diprotes. Ia bahkan bisa menjadi sejajar dan punya akses ke “orang-orang penting”. Karena di sana ada artis, pengusaha, pendeta bahkan calon presiden. Maka, tak salah jika orang pun berduyun-duyun mengunjungi fb.


Relasi Ilusi
Orang sering tidak menyadari, relasi yang terjalin melalui fb hanyalah sebuah relasi ilusi. Kita tidak berhadapan dengan realitas yang sesungguhnya. “Kita memang bisa hahahahihihi, saling berkomentar yang membuat kita senang dan menikmati relasi ini. Tetapi relasi via fb, sebenarnya relasi ilusi,” jelas Christine yang tak pernah lagi meng-update akun fb yang dibuat tahun 2007 itu

Realitas di dunia maya yang berwujud kata-kata itu adalah sebuah realitas yang sudah tereduksi. “Bagaimana pun, ekspresi melalui kata-kata tidak bisa menggantikan ekspresi yang sesungguhnya. Misalnya; tatapan mata, sikap menolak. Relasi yang sangat kompleks mengandalkan gestur, ekspresi dan bahkan sentuhan. Itu sangat substansial dan tidak bisa digantikan dengan realitas yang sudah tereduksi dengan kata-kata dan lambang,” terang ahli psikologi sosial ini.

Unsur hakiki sebuah relasi adalah pertemuan secara fisik, face to face. Di sana, ada proses pembelajaran pengolahan indra untuk menangkap kepekaan apa pun: bau, rasa, emosi, mata dan pendengaran. Ini mutlak dibutuhkan dalam sebuah relasi yang sesungguhnya. Jika, kepekaan ini tidak dilatih orang menjadi gagap dalam bersosialisasi. “Bisa jadi di dunia maya, ia sangat canggih bersosialisasi. Namun, secara nyata ia tidak punya ketrampilan itu karena memang tidak pernah menggunakannya. Ia memang menggunakannya tetapi bukan dengan realitas yang sesungguhnya. Relasi secara fisik tetap substansial dan tidak bisa digantikan,” tandas doktor alumni Universitas Indonesia ini.

Memberitakan Kabar Baik
Para pendeta memanfaatkan fb untuk memperluas jangkauan pelayanan, memberitakan kabar baik. Dalam pandangan Pdt. Samuel Budi Prasetya (49), ini adalah sesuatu yang positif. “Saya sangat setuju, tidak masalah sehingga dia bisa mengenal komunitasnya. Tetapi kalau itu harus menggantikan yang esensi (persekutuan secara fisik-red), itu yang saya sulit mengerti,” terang gembala Gereja Isa Almasih, Jakarta pada Dianovita dari Bahana.

Pada dasarnya, kata Samuel, semua alat komunikasi bermanfaat untuk memberitakan kabar baik. Karena akan mempermudah, memperluas dan bahkan mempercepat proses penyampaian misi itu. Misalnya; kotbah bisa disiarkan lewat TV dan radio. Ayat Alkitab atau kata-kata motivasi dikirim lewat sms atau fb. Namun, tentu saja tidak bisa berhenti di sini. “Harus dilanjutkan dengan persekutuan di antara orang-orang percaya. Harus ada perjumpaan secara fisik karena di sana dapat terjalin hubungan emosi dan spritualitas yang baik. Dan, fellowship seperti ini jelas tidak dapat digantikan oleh fb,” kata suami dari Verra Agnes Allouw ini.

Bagaimana pun, manusia tidak hanya membutuhkan komunikasi yang sekadar bersifat tukar informasi. Dia membutuhkan suatu relasi yang menyeluruh. “Buktinya, di zaman teknologi informasi yang sudah begitu canggih ini, tetap saja banyak orang yang merasa kesepian. Itulah mengapa konseling lewat telepon sangat laris. Karena orang membutuhkan relasi secara personal,” terang pendeta yang menyelesaikan studi masternya di UKSW, Salatiga ini.

Lost Generation
Ada sebuah kekuatiran. Jika anak muda terlalu asyik dengan kehidupan di dunia maya, suatu saat akan terjadi lost generation (generasi yang hilang). “Secara fisik mereka ada di lokal tetapi cara berpikirnya abstrak dan tidak real. Ia tidak bisa menanggapi persoalan di sekitarnya. Gagap terhadap apa yang sedang terjadi di lingkungannya karena ia punya dunia lain,” terang Christine yang juga pengamat masalah gaya hidup dan masyarakat perkotaan ini.

Tak dapat ditampik, gandrung fb memang mulai menunjukkan gejala yang kurang sehat. Tak sedikit orang mengaku kecanduan. Menggunakan fb secara tidak rasional. Firun (25) misalnya Ia menghabiskan mininal tiga jam dalam sehari untuk ber-fb ria. Kalau tak puas dengan hp, Ia lalu menyambangi warung internet (warnet). Melewatkan malam hingga dini hari bersama fb. Kecanduan itu pun berujung pada rusaknya hubungan Firun dengan kekasihnya.

Anak muda secara berlebihan menginventasikan sumber dayanya: energi, waktu dan bahkan ekonomi untuk memelihara jejaring sosialnya di fb. Bahkan, lalu mengabaikan kebutuhan yang lebih esensial di hidupnya. Bolos kuliah, namun fb jalan terus. Pekerja kantor idem ditto. “Tidak bisa membedakan antara pekerjaan yang sebenarnya dan membangun jejaring yang sebetulnya tidak ada hubungannya dengan pekerjaan,” kata Lukas S. Ispandriarno, Ph.D, MA (53). Tak heran, jika banyak perusahaan yang akhirnya memblokir situs itu karena kuatir akan menurunkan produktivitas karyawan.

Sebagian beranggapan, kebijakan ini tidak rasional dan kurang manusiawi. Alasannya, membangun jejaring adalah hak pribadi. Perusahaan tidak berhak memberangusnya. “Ya, memang perusahaan tidak bisa melarang karyawan (berjejaring-red) tetapi karyawan juga tidak berhak menggunakan waktu dan fasilitas kantor untuk membangun jejaring. Jadi masing-masing harus tahu sendiri. Kembali ke tanggung jawab moral masing-masing,” ujar Christine tegas.

Cengkeram Kapitalisme
Hal itu tidak akan terjadi seandainya orang bisa menyikapi fb dengan kritis. Lukas mengingatkan bahwa sebetulnya di balik semua ini ada raksasa kapitalisme yang sedang bermain. “Orang lupa bahwa kita ini dijadikan pasar. Di balik ini semua ada sebuah perusahaan multimedia yang besar. Tujuannya hanya profit dan membentuk budaya konsumtif,” tutur Wakil Dekan II Fakultas lmu Sosial dan Politik Universitas Atma Jaya itu.

Ya, popularitas yang melesat bagaikan roket, membuat fb kebanjiran uang. Tahun 2006, Zuckerberg menolak tawaran Yahoo untuk membeli fb seharga 1 milliar dollar AS (sekitar Rp 12 triliun). Kini, nilai ekonomi fb ditaksir sebesar 15 milliar dollar AS (Kompas, 28 Februari 2009). Zuckerberg sendiri memiliki 20% saham di fb senilai 3 miliar dollar AS. Ia pun nangkring dalam jajaran 400 orang terkaya di Amerika versi majalah Forbes. Dan di deklarasikan sebagai milliuner “self made” termuda di planet ini.

Ada gula ada semut. Kesuksesan fb membuat para vendor berlomba-lomba menyajikan berbagai fasilitas yang memudahkan pelanggan untuk mengakses jaringan sosial itu. Ada yang memang dirancang khusus supaya bisa kompatibel dengan fb. Seperti Blackberry dan iPhone. Belakangan Nokia pun menyusul. Namun, sebenarnya sepanjang bisa mengakses internet, semua jenis hp bisa untuk menjangkau fb. Tidak hanya jenis ponsel tertentu.

Karena saat ini, fb seakan sudah menjadi “kebutuhan yang penting dan mendesak” maka orang pun merasa perlu untuk berganti hp. Supaya bisa meng-update fb setiap saat. “Mungkin suatu saat jenis ponsel yang bisa mengakses fb makin banyak dan harganya murah. Orang pun harus “dipaksa” beli karena merasa itu sebagai sebuah kebutuhan. Ini akan membuat orang menjadi konsumtif,” kritik Lukas yang meraih gelar doktor dari Universitas Ilmenau, Jerman ini.

Negara dengan jumlah penduduk yang besar, lanjut Lukas, seperti Indonesia memang menjadi sasaran kapitalis. “Apalagi kencenderungan masyarakat kita memang senang hal-hal yang sensasional. Gumuman (gampang terheran-heran), ya sudah dihujani terus. Kita harus kritis bahwa di balik ini ada orang yang cari uang,” tandas pengajar mata kuliah Komunikasi Massa serta Filsafat dan Etika Komunikasi ini.

Punya Tujuan
Supaya tidak terhisap dalam pusaran arus kapitalisme , orang harus berpikir rasional. Membangun jejaring sosial memang penting. Dan, keberadaan teknologi, dalam hal ini fb, telah memudahkan kita. “Namun, kita harus melihat lebih dalam apakah jejaring sosial yang dibangun karena teknologi itu memang membawa manfaat luas. Harus ada tujuan yang jelas. Jangan sampai hanya jadi ajang kumpul-kumpul yang tak jelas juntrungannya,” tutur jemaat Gereja Katholik Paroki Pringwulung Yogyakarta ini.

Selain itu, Lukas juga mengkiritisi masalah penggunaan sumber daya. Demam fb kerap membuat orang lupa diri. Menggunakan sumber daya secara berlebihan. “Anak-anak muda menggunakan waktu lebih untuk online, uangnya dari mana? Pekerja kantor yang sudah mandiri pun seharusnya bisa menggunakan uang itu untuk sesuatu yang lebih berharga. Berbisnis, membeli buku atau membantu orang lain. Mereka banyak menghabiskan sumber daya untuk sesuatu yang canggih tetapi manfaatnya terbatas,” tegas Lukas.

Hanya Alat Pembantu
Sementara Samuel mencoba memaknai fenomena ini dalam sebuah bingkai besar bernama teknologi. Sejatinya, keberadaan teknologi adalah hanyalah sebagai alat membantu dan mempermudah kehidupan manusia. Namun, jangan sampai menggantikan esensi yang sesungguhnya. Begitu pun dengan fb.“Alat itu nilainya sama dengan simbol. Simbol yang dapat bekerja dan berfungsi sebagai simbol komunikasi. Simbol itu harus diletakkan pada konteksnya. Jangan sampai itu menggantikan hal esensi di dalamnya. Saya meyakini teknologi dan penemuan tujuannya selalu untuk membantu manusia. Jadi, sifatnya netral . Tergantung manusianya, dia mau menjadikan alat itu untuk memuliakan Tuhan atau menghujat Tuhan,” tutur Samuel yang tidak melihat fb sebagai ancaman.

Jika orang bisa memberi pemaknaan yang tepat, maka kisah kecanduan fb tentu tidak akan muncul. “Kalau secara epistemologi kita tidak memahami manusia itu apa, siapa dan kebutuhan esensi manusia sebagaimana citra Allah itu apa maka dia bisa terjebak atau terombang-ambing di dalam kondisi di dunia ini,” tambahnya.

Ya, bagaimana pun bertatapan, bersentuhan dan mendengar suara langsung lawan bicara kita jauh lebih nikmat ketimbang berinteraksi dengan layar komputer. Karena secara alami Tuhan menciptakan kita untuk itu.

Sumber: Bahana, Mei 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar